We can express what we feel, or we can go insane.
🍀
Setelahnya, Shazra sampai di unit apartment Gevariel dengan menaiki taxi itu segera turun. Ia bertekad untuk menunggu Gevariel hingga pacarnya itu pulang, walaupun dengan ketakutan yang lekat pada dirinya. Menekan kode pintu yang dihafalnya di luar kepala, dan melangkah masuk.
“Gevariel..." Ucapnya pelan ia mencoba untuk memastikan kalau di tempat ini hanya ada dirinya, dan ternyata benar. Ia mendudukkan dirinya di lantai bersandar pada sofa di belakangnya, sofa yang beberapa hari lalu Gevariel duduki di saat dirinya menduduki paha pacarnya itu.
Shazra menempatkan dahi pada lutut yang ia tekuk, menangis diam-diam karena meruntuki apa yang sudah ia perbuat beberapa hari terakhir dimana ia selalu menyulut Gevariel-nya, walaupun dirinya selalu berhasil untuk meluluhkan pacarnya itu. Namun untuk hari ini, ia tidak yakin akan berhasil meluluhkan Gevariel.
🕝
2.27 AM
Gevariel sampai di unit apartmentnya, sedikit terkejut melihat presensi Shazra dengan posisi duduk di lantai memeluk lutut. Lalu ia berniat menyelimutinya. Shazra mendongak saat merasakan sesu-atu di punggungnya. Begitu matanya melihat Gevariel yang berdiri, ia dengan segera memeluk pahanya untuk menyembunyikan wajah.
“Maaf, maafin aku, aku salah, aku gak sopan sama kamu iel, aku buat kamu marah, maaf maafin aku...”
Gevariel hanya diam menutup matanya. Lalu melepas tangan Shazra yang melingkari pahanya dan menuntunnya duduk pada sofa. Lalu ia melangkah ke dapur tetapi Shazra malah mengikutinya di belakang, namun tidak berani mendekat.
“Ieel, aku di sini, aku nih gak keliatan ya? Kamu dari mana aja? Jam 2 pagi kamu kok baru pulang gini?” Gevariel hanya diam, tangannya sibuk membuka lemari pendingin dan meminum minuman kaleng mengabaikan pacarnya yang suka berulah itu.
“Kamu nih dengar aku gak sih? Kalau ditanya jangan diam aja Gevariel. Kalau aku yang ditanya terus diam aja begini nih pasti kamu tegur, ini kamu sendiri diamin aku” Ucapnya sok tegas dengan suara yang tersendat karena lelah terus menangis.
Lagi dan lagi Gevariel hanya diam, melewati presensi Shazra dan berlalu menuju kamarnya. Jelas saja Shazra tetap mengekori Gevariel hingga ke dalam kamar, dengan mulutnya yang tidak bisa diam itu.
Sementara Gevariel masih berusaha meredam emosi dan merasa sedikit jengah, berniat keluar dari kamar. Namun Shazra dengan cepat menyusul di belakangnya dan merebut kunci pintu lalu memasukkannya ke dalam saku celana.